Penyebaran coronavirus disease (Covid-19) atau virus korona baru masih terus berlangsung hampir menyerang seluruh negara di Dunia.
Di Indonesia, kasus positif juga telah bertambah. Jika sebelumnya ada 34 kasus positif virus korona, kini bertambah hingga tgl 18 Maret 2019 total 227. Hal itu diumumkan juru bicara pemerintah untuk penanganan virus korona Achmad Yurianto.
Terlepas dengan peningkatan kasus di seluruh dunia dan Indonesia, pakar dari Inggris justru menyebut perokok lebih rentan terkena virus korona baru daripada yang tidak merokok.
“Untuk memperjelas perokok, rekomendasi saya adalah mereka berhenti merokok. Jika Anda akan berhenti merokok, ini adalah saat yang sangat baik untuk melakukannya,” kata Profesor Chris Whitty seperti dikutip dari The Sun, Jumat (13/3/2020).
Menurutnya, bukan berarti para perokok harus mengisolasi diri atau berperilaku berbeda. Dia mengatakan, merokok bisa membuat ‘kerentanan’ tambahan bagi tubuh melawan infeksi dan virus.
"Saya hanya menyoroti itu sebagai kerentanan tambahan bagi orang-orang yang sebaliknya sehat,” ucapnya.
Sementara itu, Profesor Sanjaya Senanayake dari Australian National University (ANU) mengatakan, sejauh ini tidak ada hubungan langsung antara merokok dengan terkena Covid-19. Namun, merokok dapat memperparah kondisi lain yang membuat orang yang terkena virus ini lebih buruk.
“Merokok dikaitkan dengan penyakit lain seperti paru-paru kronis dan penyakit jantung kronis yang dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah dan hasil yang lebih buruk untuk mereka yang juga mengidap virus korona,” kata Senanayake.
Sumber : in**s.id
Di Indonesia, kasus positif juga telah bertambah. Jika sebelumnya ada 34 kasus positif virus korona, kini bertambah hingga tgl 18 Maret 2019 total 227. Hal itu diumumkan juru bicara pemerintah untuk penanganan virus korona Achmad Yurianto.
Terlepas dengan peningkatan kasus di seluruh dunia dan Indonesia, pakar dari Inggris justru menyebut perokok lebih rentan terkena virus korona baru daripada yang tidak merokok.
“Untuk memperjelas perokok, rekomendasi saya adalah mereka berhenti merokok. Jika Anda akan berhenti merokok, ini adalah saat yang sangat baik untuk melakukannya,” kata Profesor Chris Whitty seperti dikutip dari The Sun, Jumat (13/3/2020).
Menurutnya, bukan berarti para perokok harus mengisolasi diri atau berperilaku berbeda. Dia mengatakan, merokok bisa membuat ‘kerentanan’ tambahan bagi tubuh melawan infeksi dan virus.
"Saya hanya menyoroti itu sebagai kerentanan tambahan bagi orang-orang yang sebaliknya sehat,” ucapnya.
Sementara itu, Profesor Sanjaya Senanayake dari Australian National University (ANU) mengatakan, sejauh ini tidak ada hubungan langsung antara merokok dengan terkena Covid-19. Namun, merokok dapat memperparah kondisi lain yang membuat orang yang terkena virus ini lebih buruk.
“Merokok dikaitkan dengan penyakit lain seperti paru-paru kronis dan penyakit jantung kronis yang dikaitkan dengan penyakit yang lebih parah dan hasil yang lebih buruk untuk mereka yang juga mengidap virus korona,” kata Senanayake.
Sumber : in**s.id
Advertisement
